
ADHYAKSAdigital.com –Wakil Jaksa Agung Asep Nana Mulyana memberikan apresiasi kepada Asuransi IFG Group yang selalu konsisten melestarikan budaya dan mengembangkan usaha mikro lewat pembinaannya kepada pelaku UMKM.
Hal ini disampaikan Wakil Jaksas Agung Asep Nana Mulyana pada kegiatan Ruang Resonansi IFG Group 2026 yang bertema “Menghidupkan Budaya untuk Melahirkan Karya”, di Gedung IFG Life Asia Afrika, Bandung, Sabtu 26 September 2026.
“Tema “Menghidupkan Budaya untuk Melahirkan Karya” mengajak kita memandang warisan bangsa sebagai sumber gagasan yang terus dapat tumbuh di tengah kehidupan hari ini,” ujar Asep Nana Mulyana.
Kita berada di sebuah bangunan yang menyimpan jejak sejarah. Akan tetapi, sejarah tidak hidup hanya karena sebuah gedung tetap berdiri. Ia hidup ketika kita mengetahui cerita di baliknya, membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenalnya, dan memberi kesempatan kepada generasi baru untuk menafsirkan maknanya.
“Ketika ruang bersejarah menjadi tempat belajar, bermusik, bertemu, dan berkarya, masa lalu hadir sebagai bagian dari masa depan. Inilah pesan pertama yang ingin saya sampaikan kepada anakanak muda: kenalilah akar tempat kalian berpijak,” pesan dihadapan peserta yang saat ini dihadiri kaum muda.
Bahasa, kesenian, keterampilan tangan, tradisi, dan nilai hidup yang diwariskan oleh pendahulu kita menyimpan cara pandang yang kaya. Mengenalnya akan memperluas pilihan dalam berkarya. Dari pengetahuan itu, lahir keberanian untuk mengolah bentuk baru yang memiliki identitas dan dapat berbicara kepada dunia.
Pelestarian budaya dapat dimulai dengan mengunjungi ruang sejarah, mendengarkan pelaku budaya, dan mendukung perajin lokal. Bagikan pengalaman itu secara jujur melalui medium yang dekat dengan generasi muda agar semakin banyak orang ikut mengenal nilainya.
Asep meminta agar kebebasan berkarya senantiasa berjalan bersama tanggung jawab. Teknologi memberi kita sarana untuk mencipta dan menyebarluaskan gagasan dengan cepat. Namun, kecepatan itu perlu disertai kesadaran untuk menghargai karya orang lain, menyebut sumber inspirasi dengan patut, dan membangun hubungan yang adil dengan para pelaku budaya. Karya
Dari sudut pandang hukum, penghormatan terhadap karya dan martabat sesama memberi landasan bagi ruang kreatif yang sehat. Dari sudut pandang etika, kejujuran dalam proses berkarya membentuk kepercayaan. Keduanya memberi kesempatan kepada talenta muda untuk bereksperimen, belajar dari kesalahan, dan bertumbuh dengan tetap menghargai nilai luhur bangsa.
Budaya kita juga mengajarkan gotong royong. Karena itu, pesan ketiga adalah bekerja bersama. Ruang Resonansi mempertemukan warisan sejarah, pendidikan publik, dan musik. Pertemuan itu menjadi lebih bermakna ketika seniman, komunitas, pelaku UMKM, dan perusahaan saling membuka ruang.
Pelaku usaha dapat menghadirkan produk yang lahir dari keterampilan lokal; seniman memberi bahasa baru bagi cerita lama; anak muda menghubungkannya dengan khalayak yang lebih luas. Saya mengapresiasi ruang bagi UMKM dalam kegiatan ini.
Di balik sebuah produk terdapat kerja dan pengetahuan keluarga serta komunitas. Ketika masyarakat mengenal pembuatnya dan menghargai kualitasnya, pelestarian budaya ikut memberi manfaat ekonomi. Bagi pelaku usaha, inilah kesempatan untuk meningkatkan mutu dan membangun kemitraan yang saling menghormati.
“Kepada IFG Group, Jamkrindo, dan seluruh mitra, saya mengajak agar ruang seperti ini terus membuka akses bagi publik untuk mengenal bangunan bersejarah serta memberi kesempatan nyata kepada talenta dan pelaku UMKM lokal,” harapnya.
” Semakin banyak orang dapat berpartisipasi, semakin kuat pula jalinan antara pelestarian budaya dan kesempatan berkarya,” tutupnya. (




