Nasional

Si “Raja Batak” RJ Menghadap Sang Khalik

Oleh : Felix Sidabutar

ADHYAKSAdigital.com –Pagi menjelang siang, Sabtu, 11 Mei 2024, pesan Whatsapp datang dari sejumlah teman memberi kabar, Jaksa Agung Muda Pidana Umum (JAM Pidum) Kejaksaan Republik Indonesia, Dr. Fadil Zumhana Harahap, SH.MH telah wafat.

“Innalilahi wainna illaihi rojiun” .

Turut berdukacita atas wafatnya JAMPIDUM Bpk FADIL ZUMHANA. Semoga almarhum mendapat tempat yang terbaik di sisi Allah SWT.Semoga diampuni semua kesalahan dan dosa serta diterima semua amal ibadahnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan iman. Aamiin Yaa Robbal alamiin “

“Innalillahi wainnailahi rajiun, telah berpulang ke rahmatullah Bapak kita/kakak kita/sahabat terbaik kita/ Bapak Fadil Zumhana. Semoga diterima semua amal baik beliau dan ditempatka di surganya Alloh SWT dan dieberikan ketabahan keluarga yang ditinggalkan Aaamiin YRA”

Ada ratusan pesan Whatsapp yang masuk ke nomor telepon seluler penulis hari itu. Isinya senada, memberitahukan Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Dr. Fadil Zumhana Harahap, SH.MH menghadap Sang Khalik.

Sontak, pesan yang berisi informasi wafatnya JAM Pidum Fadil Zumhana ini mengagetkan saya. Merenung, Sang Khalik sungguh sayang dengan Fadil Zumhana. Sang Khalik memanggil Fadil Zumhana untuk tinggal bersama Nya di Surga.

Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dan segenap insan Adhyaksa Kejaksaan RI dari Sabang sampai Merauke menyampaikan Duka Cita mendalam atas berpulangnya JAM Pidum Fadil Zumhana, salah seorang putra terbaik Kejaksaan RI hari itu.

Dia meninggalkan keluarga besarnya, istri, 2 (dua) putra, cucu, sanak saudara, tetangga, rekan kerja, dan tentunya Bangsa Indonesia juga institusi Kejaksaan RI. Fadil Zumhana berpulang kala masih menjabat sebagai JAM Pidum Kejaksaan RI.

Sejumlah pelayat yang terdiri dari keluarga besar Fadil Zumhana, masyarakat dan pemerintah daerah setempat, pegawai dan jaksa pada Kejaksaan Agung juga para pejabat utama Kejagung memadati rumah duka yang beralamat di Jalan Cendrawasih, Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, DKI Jakarta hari itu.Hari itu, jenazah JAM Pidum Fadil Zumhana disemayamkan di rumah duka untuk di doakan dan disholatkan. Kemudian, jenazah diantar ke pemakaman Taman Pemakaman Umum Poncol Bekasi, Jawa Barat untuk dimakamkan.

Fadil Zumhana Harahap, pria Keturunan Batak Angkola dari Gunung Tua, Padang Lawas Utara, Sumatera Utara ini cukup lama menjalani perawatan medis akibat sejumlah sakit yang dideranya. Dia keluar masuk sejumlah rumah sakit di dalam negeri, bahkan hingga ke luar negeri, untuk berjuang mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang dideritanya.

Allah SWT sang Khalik punya rencana lain, jaksa sederhana dan berwibawa ini dipanggil Nya. Perjuangan untuk mendapatkan kesembuhan harus diakhiri. Derita dan sakit yang selama ini dialaminya disembuhkan Nya.

Mengingatkan kembali kala penulis intens berkomunikasi dengan beliau untuk kepentingan publikasi berita tentang kinerja Kejaksaan RI, khususnya bidang pidana umum. Sosok Fadil Zumhana adalah seorang pemimpin yang tegas, beriwibawa dan sederhana.Sebagai JAM Pidum Kejagung, Fadil Zumhana tanpa kenal lelah mengawal wajah penegakan hukum Kejaksaan RI.

Dia menegaskan Pelayanan dan Penegakan Hukum Kejaksaan RI Profesional, Berintegritas dan Berhati Nurani.Sosok Fadil Zumhana sangat melekat dalam penegakan hukum humanis Kejaksaan RI, khususnya dalam penerapan Keadilan Restoratif. Restorative Justice (RJ) adalah wajah penegakan hukum yang berkeadilan dan memiliki kemanfaatan bagi masyarakat.

Sewaktu melakukan kunjungan kerja ke Pangururan, Samosir, Sumatera Utara beberapa waktu lalu, Jaksa Agung Muda Pidana Umum Dr. Fadil Zumhana Harahap mendapatkan gelar kehormatan dari sejumlah tokoh adat Batak saat itu.

JAM Pidum Fadil Zumhana Harahap dianugerahi gelat adat Batak Toba dan disematkan Pakaian Adat Batak Toba, Ulos, penutup kepala dan tongkat tunggal panaluan atau tongkat sakti menurut tradisi adat Batak Toba.

Dia mengaku bangga bagian dari kearifan lokal masyarakat adat Batak, khususnya saling menghargai, solidaritas dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Kearifan lokal dalam budaya masyarakat Samosir, mengedepankan musyawarah dan silaturahmi.

“Saya bangga dengan gelar kehormatan yang disematkan ini. Saya Raja Batak yang harus memberikan keadilan dan kepastian hukum bagi masyarakat. Uda jadi Raja Batak abang mu ini ya dek,” begitu isi pesan Fadil Zumhana dalam chatting Whatsapp dengan penulis.

Fadil Zumhana sebagai Jaksa dimulai saat pertama kali menjabat sebagai Jaksa Fungsional pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM PIDSUS) Kejaksaan Agung pada tahun 1993.

Dalam riwayat jabatannya, (Alm.) Dr. Fadil Zumhana telah menjabat pada beberapa posisi strategis di Kejaksaan RI, Kajari Surabaya, Kajati Kalimantan Timur, bahkan hingga di Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam) RI.

Adapun salah satu Legacy yang menjadi catatan emas dalam karirnya adalah mewakili Jaksa Agung untuk menyelesaikan 5161 perkara berdasarkan keadilan restoratif (Restorative Justice) pada tindak pidana Orang dan Harta Benda (Oharda), tindak pidana Keamanan Negara dan Ketertiban Umum (Kamnegtibum), hingga tindak pidana Narkotika.

Selama menjadi JAM-Pidum, (Alm.) Dr. Fadil Zumhana hampir setiap hari memimpin langsung ekspose Restorative Justice dengan satuan kerja Kejaksaan Negeri dan Kejaksaan Tinggi secara virtual.

Sebuah kutipan yang sering disampaikan oleh (Alm.) Dr. Fadil Zumhana bahwa Restorative Justice adalah kebijakan hukum yang sangat kuat bagi Jaksa selaku pemilik dominus litis. Dia berpesan agar para Jaksa tetap mematuhi Peraturan Jaksa Agung khususnya Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022.

“Saya boleh mengatakan bahwa keadilan restoratif merupakan salah satu penerapan penegakan hukum menuju peradilan yang humanis,” ujarnya.

Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum memandang penerapan RJ sebagai salah satu edukasi bagi rakyat agar ke depannya dapat menghindari perilaku-perilaku yang berujung adanya penindakan hukum. “RJ diharapkan adanya efek jera dan mampu meminimalisir tindak pidana di tengah kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Dia mengutarakan Public Trust Kejaksaan saat ini tidak bisa dipungkiri berkat dukungan semua elemen masyarakat. Peran media begitu besar dalam memberitakan setiap kegiatan maupun program kerja Kejaksaan. #####

Penulis adalah CEO ADHYAKSAdigital

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button