NasionalTokoh

Di Film Budi Pekerti, Hoax Picu Konflik

Oleh: Helena Octavianne SH.MH

ADHYAKSAdigital.com –Pernahkah anda menonton Film Budi Pekerti, Film yang ditulis dan disutradarai Wregas Bhanuteja ini? Film Budi Pekerti ini telah berhasil memenangkan beberapa penghargaan internasional dan berhasil masuk dalam nominasi Festival Film Indonesia tahun 2023.

Yang ingin penulis sampaikan disini adalah, tontonlah Film Budi Pekerti ini ! Mengapa begitu penting harus menontonnya? Cerita didalam film ini mengajarkan kita untuk mampu memilah sebuah informasi tentang kebenaran peristiwa yang terjadi.

Film ini berkisah tentang seorang guru Bimbingan Konseling (BK) yang bernama Bu Prani (Ine Febriyanti) yang berselisih paham dengan salah satu pengunjung di pasar. Ketika perselisihan itu sedang terjadi, tanpa sepengetahuannya ada seseorang yang merekam dan mengunggahnya pada media sosial.

Selanjutnya video yang telah diunggah tersebut akhirnya viral dan mendapatkan komentar negatif dari netizen. Netizen menilai sebagai seorang guru, sikap Bu Prani tidak mencerminkan seorang guru yang baik.
Video yang telah viral tersebut akhirnya didengar oleh kepala sekolah tempat dia mengajar. Atas kejadian tersebut pihak sekolah mengancam akan mengeluarkannya dari sekolah.

Selain berdampak pada sekolah, kejadian itu juga ikut berdampak pada keluarganya. Keluarga Bu Prani tidak bisa tenang karena identitas mereka selalu dicari-cari kesalahannya. Selain itu, mereka dihakimi dan dikecam atas kejadian tersebut.

Era digital, kebebasan berekspresi dan keterbukaan informasi publik, media sosial kerap dimanfaatkan untuk penyebaran informasi. Pengaruh media sosial terhadap persepsi publik kepada seseorang, meskipun mereka tidak mengetahui kisah sebenarnya.

Film Budi Pekerti mengungkapkan fakta bahwa dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari, Bu Prani adalah korban dari Cyber Bullying. Penyebaran informasi Hoax sebagai sarana kepentingan bagi pihak yang menyebarkan.

Dikarenakan korban fitnah hoax menjadi rentan terhadap tindakan kekerasan online atau cyberbullying.

Cyberbullying bisa dibilang merupakan perilaku yang disengaja untuk menyakiti orang yang dianggap ‘bersalah’.

Padahal bisa jadi ‘bersalahnya’ orang tersebut karena by design. Apalagi memang ada pihak yang sengaja memproduksi hoax demi keuntungan pribadi atau kelompoknya. Cirinya adalah muatan konten yang tidak berimbang.

Menonton film Budi Pekerti semakin membuka wawasan tentang bagaimana mudahnya netizen terprovokasi di dunia maya. Bahwa sebuah miskomunikasi personal dapat berkembang menjadi sebuah masalah sosial dan pihak yang tidak terlibat secara sukarela melibatkan diri menghakimi pihak yang dianggap bersalah.

Bagi orang yang mengalami fitnah di dunia maya karena hoax yang beredar, akan mengalami dampak psikologis yang serius seperti depresi, kecemasan, stres, merasa tidak berdaya, bahkan indikasi untuk melakukan bunuh diri.

Bijak bermedia sosial dan mau mencari tahu duduk perkara yang sebenanrya adalah salah satu cara agar tidak ikut terprovokasi berita-berita yang belum tentu benar secara fakta dan kejadian.

Film ini menggambarkan bagaimana kejadian viral di media sosial dapat menghancurkan kehidupan seorang individu dan keluarganya, menyoroti dampak negatif dari cyberbullying dan peradilan publik yang tanpa pemahaman penuh tentang informasi yang tersebar.

Namun memang sulit untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab saat ini, mungkin karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa ikut arus dan enggan ‘buang-buang waktu’ mengedukasi diri sendiri.

Namun tetap berharap masih ada netizen yang mau mencari kejelasan dari setiap informasi maupun berita yang tersaji di media sosial, sehingga bijaksana dalam memberikan ulasan atau komentar di media sosial atau media manapun.

Sesuai dengan judul film ini, pendidikan budi pekerti itu sangat penting ditanamkan kepada generasi muda bangsa ini. Pendidikan budi pekerti merupakan upaya untuk membantu generasi muda mengenal, menyadari pentingnya, dan menghayati nilai-nilai moral.

Sehingga seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan perilakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat. Etika dan moral dalam merawat silaturahmi dan toleransi sesama anak bangsa. #####

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Surabaya, tinggal di Jakarta

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button