NasionalTokoh

ST Burhanuddin, Pejuang Kejaksaan Hebat dan Humanis

Oleh : Felix Sidabutar

ADHYAKSAdigital.com –Kepemimpinan Sanitiar Buhanuddin sebagai Jaksa Agung memasuki tahun kelimanya Tahun 2024 ini. Tentunya dibawah kepemimpinannya, Kejaksaan RI sebagai alat negara perlahan-lahan menujukkan perubahan dalam pelayanan dan penegakan hukumnya. Jujur, saya harus mengakui keberhasilan Kejaksaan RI dalam kurun waktu 5 tahun kepemimpinannya telah banyak berubah dalam hal positifnya.

Mengawali sebagai Jaksa Agung Tahun 2019 lalu, ST Burhanuddin dihadapkan pada kondisi kelembagaan yang menuai banyak sorotan atas kinerja penegakan hukum Kejaksaan RI yang kurang profesional, diskriminatif, tebang pilih dan dituding sebagai alat penguasa dan para cukong.

Pelayanan dan penegakan hukum Kejaksaan RI Bobrok. Hukum bisa dibeli!

Dihadapkan pada kondisi lembaga seperti ini, ST Burhanuddin bergerak melakukan konsolidasi internal, membangun koordinasi dan sinergitas dengan lembaga negara lainnya, organisasi kemasyarakatan, akademisi, media, tokoh masyarakat, ulama juga lembaga – lembaga internasional.

Saat itu dalam benaknya, ST Burhanuddin berkomitmen Kejaksaan RI harus keluar dari keterpurukan cap negatif bobroknya penegakan supremasi hukum Kejaksaan. Perilaku pegawai dan jaksa yang tidak profesional, arogan dan melakukan pemerasan.

Seiring waktu, ST Burhanuddin berhasil menahkodai Kejaksaan meraih prestasi dan mengambil simpati publik atas kinerja pelayanan dan penegakan hukum Kejaksaan RI. Beragam terobosan ditorehkan ST Burhanuddin, memulainya dengan perbaikan menejemen internal, SOP pelayanan dan penindakan bagi oknum pegawai maupun jaksa nakal. Burhanuddin memperbaiki menejemen dalam rekrutmen dan rotasi karir pegawai dan jaksa.

Soliditas dan solidaritas Adhyaksa menjadi salah satu kunci lembaga ini mampu berkomitmen dalam penegakan hukum. Pembenahan dan perubahan dalam kinerja terus digelorakan bagi segenap insan Adhyaksa. Burhanuddin juga merangkul media dalam publikasi kinerja jajarannya. Keterbukaan Informasi Publik dan Transparansi pelayanan dan penegakan hukum Kejaksaan RI dari Sabang sampai Merauke.

Penegakan hukum tindak pidana korupsi yang dilakukan Kejaksaan sangat diapresiasi masyarakat luas sehingga memperoleh “Public Trust”. Menjadi beban moral Kejaksaan untuk lebih profesional dalam pengusutan kasus-kasus dugaan korupsi, sehingga pengelolaan dan penggunaan keuangan negara dapat dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan yang ada.

Kejaksaan memiliki tanggung jawab dalam penindakan, pencegahan dan pemulihan aset negara dalam proses penegakan hukum tidak pidana korupsi. Kejaksaan tidak semata-mata menindak pelaku korupsi, Kejaksaan juga melakukan kampanye anti korupsi serta pengembalian kerugian negara atas tindak pidana korupsi yang ditanganinya.

Peningkatan kepercayaan tersebut karena masyarakat menganggap Kejaksaan sedikit-banyak telah mampu menampilkan wajah penegakan hukum yang didambakan. Di antaranya adalah keberhasilan Kejaksaan dalam menangkap kegelisahan masyarakat atas praktek penegakan hukum yang dinilai tidak memenuhi rasa keadilan, yaitu dengan dikeluarkannya kebijakan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif.

Kebijakan tersebut merupakan tonggak perubahan paradigma penegakan hukum, sehingga masyarakat memposisikan Restorative Justice identik dengan Kejaksaan. Penegakan hukum Keadilan Restoratif adalah salah satu perubahan nyata yang diberikan Kejaksaan bagi masyarakat pencari keadilan.

Jaksa Agung ST Burhanuddin menerbitkan Perja No 15 Tahun 2020 tentang penegakan hukum melalui pendekatan Keadilan Restoratif. Terobosan berikutnya adalah menghadirkan Rumah Restorative Justice guna menyerap keadilan di tengah masyarakat, serta untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang eksis di tengah masyarakat dengan melibatkan tokoh masyarakat, adat, dan agama, sehingga akan tercipta kesejukan dan perdamaian yang dapat dirasakan oleh seluruh warga.

Tangan dingin Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin berhasil membuktikan dengan penegakan hukum yangg humanis berhati nurani dan dijalankan insan Adhyaksa yang penuh integritas kepercayaan publik terjaga baik.

Pasalnya, mempertahankan dan meningkatkan jauh lebih berat. Ekspektasi masyarakat terhadap Kejaksaan akan semakin tinggi dan harus direspon oleh insan Adhyaksa dengan kerja keras, kerja tulus dan penuh keiklasan.

Burhanuddin meminta agar jajarannya juga mempertahankan kepercayaan publik yang dinilai tertinggi bagi aparat penegak hukum. Ia mengingatkan agar jajarannya menjaga integritas dan marwah Kejaksaan. Kerja keras penuh integritas serta pelaksanaan tugas secara profesional dan proporsional dengan mengedepankan keadilan yang didasarkan pada hati nurani.

Akhirnya, lewat tulisan ini, saya menilai, Bangsa Indonesia dan Insan Adhyaksa patut berbangga Kejaksaan RI pernah memiliki ST Burhanuddin, sosok pemimpin yang visioner dan inspiratif. ST Burhanuddin adalah Pejuang Kejaksaan Hebat dan Humanis! +++++

Penulis adalah CEO ADHYAKSAdigital

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button