Nasional

Hasrat Birahi Memuncak, Istri Enggan Layani

ADHYAKSAdigital.com –Kehidupan di dalam rumah tangga itu acap kali diwarnai pasang surut dalam komunikasi antara suami dan istri. Persoalan sepele kerap memantik salah faham dalam rumah tangga, berujung penganiayaan terhadap pasangan.

Di Kota Cirebon, Jawa Barat, seorang pria harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Dia menjadi tersangka atas tindak pidana penganiayaan yang dilakukannya terhadap istri sirinya.

Eno (40), pria yang kesehariannya berprofesi juru parkir ini, pada satu waktu menjelang tengah malam tak mampu menahan hasrat birahinya dan mengajak Siti, istri sirinya untuk melayani hasrat birahinya saat itu.

Sang istri sirinya saat itu menolak ajakannya. Dia bahkan memarahi Eno yang selama ini kurang bertanggung jawab dalam memberikan nafkah materi. Suami sirinya itu dinilainya tidak menyayanginya seutuhnya.

Kaget mendapati penolakan dan justru memarahinya, Eno emosi dan memukul wajah istri sirinya itu. Akibat pukulan itu, Siti terjatuh dan terduduk di lantai. Bahkan, bibir istri sirinya koyak dan luka.

Rupanya peristiwa itu membekas dalam diri Siti. Dia tidak sudi diperlakukan semena-mena oleh sang suami. Berbekal hasil visum, Siti melaporkan Eno suaminya ke aparat penegak hukum setempat.
Penyidik menindaklanjuti laporan itu dan mengamankan Eno. Pria ini di proses hukum atas dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukannya. Dia ditetapkan sebagai tersangka atas tindak pidana penganiayaan yang melanggar Pasal 351 KUHPidana.

Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, berkas perkara atas nama tersangka Eno ini pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Kota Cirebon. Tim jaksa pidana umum lantas memproses dan mempelajari berkasnya.
Penegakan hukum humanis yang telah menjadi budaya Kejaksaan saat ini tertanam dalam diri Umaryadi SH. MH. Tergerak dilandasi hati nurani, Umaryadi sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kota Cirebon berinisiasi memediasi perdamaian antara korban dengan pelaku.Penegakan hukum humanis menjadi alasan pihaknya untuk menawarkan perkara itu tidak dilanjutkan penuntutannya ke persidangan.

“Senin, 4Desember 2023, telah tercapai kesepakatan perdamaian yang ditandatangani masing-masing pihak dengan para saksi dari keluarga dan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat. Maaf istri menyelamatkan suaminya dari ancaman pidana,” tutur Kajari Kota Cirebon Umaryadi kepada ADHYAKSAdigital, Selasa 12 Desember 2023.
Atas terwujudnya perdamaian antara keduanya, Kejari Kota Cirebon mengusulkan penghentian penuntutan perkara tersebut ke pimpinan melalui Kajati Jabar, Ade Tajudin untuk diteruskan ke Jaksa Agung agar disetujuinya penerbitan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang di terbitkan Kejari Kota Cirebon.

“JAM Pidum Dr. Fadil Zumhana Harahap SH.MH atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan kita. Kejari Kota Cirebon meneribitkan SKP2 Restorative Justice atas perkara penganiayaan ini. Dengan demikian Eno bebas dari ancaman pidana. Perkara ini kita hentikan,” tegasnya.
Umaryadi menyebutkan penerbitan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif, sesuai Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. (Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button