Nasional

Rumah Tangga “Diujung Tanduk”, Anak Jadi Rebutan

ADHYAKSAdigital.com –Kehidupan di dalam rumah tangga itu acap kali diwarnai pasang surut dalam komunikasi antara suami dan istri dan juga keluarga besar yang didalamnya terdapat anak-anak, saudara ipar dan mertua. Persoalan sepele kerap memantik koflik dalam rumah tangga.

Di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, seorang pria beristri harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Dia menjadi tersangka atas tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukannya terhadap istrinya.

Kala itu, Sabtu 2 Juli 2023, Pria AS (38) dan istrinya YM terlibat cekcok memperrebutkan ARS, salah seorang anak pasangan suami istri ini. Pasalnya, pasangan suami istri terlibat cekcok berkepanjangan, tidak harmonis dan berujung masing-masing pihak untuk menyudahi biduk rumah tangga yang dibangun.
Keduanya secara pribadi sepakat untuk berpisah, sembari pengurusan pisah resmi dari Pengadilan Agama setempat. Si suami pisah dari istri bersama anak-anaknya dan tinggal di rumah salah seorang kerabatnya.

Kehidupan berpisah ini akhirnya mereka lakoni. Sebagai orang tua, kedua berharap, tentunya anak-anak hasil pernikahan mereka tidak terganggu atas situasi rumah tangga keluarga ini. Antara si bapak dan si ibu dimata anak-anaknya tetaplah sosok orang tua yang bertanggung jawab, peduli dan sayang kepada anak-anaknya

YM bermaksud menjemput ARS untuk dibawa kembali kerumahnya setelah beberapa waktu lama bersama bapaknya di rumah kerabatnya hari itu. Niatannya itu rupanya tidak diperbolehkan AS, suaminya. AS, sebagai bapak dari anak itu menolak ARS untuk dibawa pulang. Dia meminta anaknya ARS untuk tetap bersama dia tinggal di rumah kerabatnya ini.
YM protes dan ngotot agar ARS, anaknya ikut dia kembali ke rumah. YM mengklaim dia yang berhak pengasuhan terhadap ARS anak mereka. Keduanya pun terlibat adu mulut. Pasangan suami istri ini saling klaim pihak yang berhak pengasuhan anak-anak mereka.

Tak mampu kendalikan emosinya, sembari mengeluarkan kata-kata kotor, AS saat itu langsung menendang sepeda motor yang terparkir di lokasi. Dia juga menganiaya YM, istrinya, dengan meremas mulut istrinya sembari menyuruh pulang istrinya saat itu.

Rupanya peristiwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga itu membekas dalam diri YM. Dia tidak sudi diperlakukan semena-mena oleh sang suami. Berbekal hasil visum, YM melaporkan AS suaminya ke aparat penegak hukum setempat, Polres Rokan Hulu.
Penyidik menindaklanjuti laporan itu dan mengamankan AS. AS di proses hukum atas KDRT yang dilakukannya. Dia ditetapkan sebagai tersangka atas tindak pidana KDRT yang melanggar Pasal 44 Ayat (1) jo Pasal 5 Huruf a Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan, proses hukum atas kasus tindak pidana KDRT ini tiba pada pelimpahan berkas perkara, alat bukti dan tersangka AS ke Kejaksaan Negeri Rokan Hulu di Pasir Pengaraian.

Penegakan hukum humanis yang telah menjadi budaya Kejaksaan saat ini tertanam dalam diri Fajar Haryowimbuko SH MH. Tergerak dilandasi hati nurani, Fajar sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Rokan Hulu berinisiasi memediasi perdamaian antara korban dengan pelaku.Penegakan hukum humanis menjadi alasan pihaknya untuk menawarkan perkara itu tidak dilanjutkan penuntutannya ke persidangan.
Niatan mulia pihaknya membuahkan hasil, pasangan suami istrinya saling memaafkan. Mereka bersepakat damai dan membubuhkan tanda tangan diatas materai pernyataan perdamaian dengan disaksikan para saksi.

“Kamis, 3 Agustus 2023 lalu mereka bersepakat damai dan menandatangani perjanjian perdamaian,” tutur Kajari Rokan Hulu Fajar Haryowimbuko didampingi Kasi Pidum Robby Prasetya Tindra Putra SH.MH dan jaksa fasilitator Muhammad Ikhsan Awaljon Putra SH kepada ADHYAKSAdigital, Senin 14 Agustus 2023.

Dia menerangkan mereka berdamai dan sepakat untuk tidak melanjutkan persoalan ini hingga proses hukum lanjutan ke persidangan. “AS mengaku berjanji tidak mengulangi perbuatannya dan untuk lebih sabar dan baik dalam berperilaku kesehariannya. Dia menyesali perbuatannya,” kata Fajar.

Atas terwujudnya perdamaian antara keduanya, Kejari Rokan Hulu mengusulkan penghentian penuntutan perkara tersebut ke pimpinan melalui Kajati Riau Supardi untuk diteruskan ke Jaksa Agung agar disetujuinya penerbitan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang di terbitkan Kejari Rokan Hulu.

“JAM Pidum Dr. Fadil Zumhana Harahap SH.MH atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan kita. Kejari Rokan Hulu menerbitkan SKP2 Restorative Justice atas perkara penganiayaan KDRT ini. Dengan demikian AS bebas dari ancaman pidana. Perkara ini kita hentikan,” tegasnya.

Fajar menyebutkan penerbitan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif, sesuai Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.
(Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button