Nasional

Hati Nurani Djamaluddin Bebaskan Toke Ikan Yang Bertikai

ADHYAKSAdigital.com –Merawat silaturahmi dalam lingkungan permukiman warga itu gampang-gampang susah. Masing-masing pribadi harus mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang penuh toleransi, empati dan simpati. Namun, sebagai manusia, sulit memang dihadapkan dalam situasi tersulut emosi akibat adanya ketersinggungan dalam komunikasi di komunitas warga.

Di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, dua warga setempat harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Keduanya terlibat konflik, adu mulut hingga adu jotos. Keduanya saling lapor dan ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana penganiayaan, masing-masing sebagai tersangka juga sebagai korban.

Kala itu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kuta Alam, Banda Aceh, SUW (40) dan MAR (44) terlibat konflik. Pertikaian berawal dari SUW berniat membeli sejumlah ikan dari AY dan FIQ, salah seorang pengepul ikan dari sejumlah nelayan.
SUW ngotot agar ikan dijualkan kepadanya. AY dan FIQ menolak dan meminta SUW untuk koordinasi dengan pengurus ASPI (Asosiasi Pedagang Ikan). Pasalnya, ikan-ikan itu sudah dipesan dan dibeli toke ikan yang juga pengurus ASPI.

Bukannya mau memahami penjelasan yang disampaikan, SUW ngotot dan arogan memaksa agar ikan dijualkan ke dia. Dengan arogan dan emosi, SUW marah-marah kepada sejumlah orang yang ada saat itu.
Ditengah SUW marah-marah, muncul MAR salah seorang pengurus ASPI. MAR protes atas aksi marah-marah dan arogan yang dilakukan SUW saat itu. Keduanya pun adu mulut. Emosi keduanya tak terbendung, mereka adu fisik, saling memukul. Keributan keduanya pun dilerai sejumlah warga.

SUW dan MAR pun saling lapor ke APH Polsek Kuta Alam, Banda Aceh. Mendapat adanya laporan keduanya, penyidik menindaklanjuti dan memeriksa sejumah pihak. Berdasarkan proses pemeriksaan dan adanya alat bukti yang cukup, SUW dan MAR ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana penganiayaan.

Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, berkas perkara atas nama tersangka SUW dan MAR ini pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Banda Aceh. Tim jaksa pidana umum lantas memproses dan mempelajari berkasnya. Selanjutnya dilaporkan kepada pimpinan. Namun, oleh Kejaksaan Negeri Banda Aceh melakukan upaya perdamaian bagi kedua orang toke ikan ini.
Pelaksana Tugas Kepala Kejaksaan Negeri Banda Aceh Djamaluddin SH.MH menginisiasi adanya perdamaian antar keduanya dan menawarkan agar persoalan mereka tidak dilanjutkan hingga persidangan di Pengadilan Negeri setempat.

Akhirnya telah tercapai kesepakatan perdamaian Selasa, 20 Juni 2023 lalu yang ditandatangani masing-masing pihak dengan para saksi dari keluarga dan tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat.

Plt Kajari Banda Aceh Djamaluddin bersama dengan tim Jaksa Penuntut Umum Pidana Umum mengusulkan penghentian penuntutan perkara itu ke Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh Bambang Bachtiar SH.MH guna diteruskan ke Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk persetujuan perkara dihentikan.
Senin, 26 Juni 2023. JAM Pidum Fadil Zumhana atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan penghentian penuntutan yang diajukan Kejari Banda Aceh atas perkara penganiayaan atas nama tersangka SUW dan MAR yang diduga melanggar Pasal 351 KUHP.

“Penegakan hukum humanis Kejaksaan Negeri Banda Aceh membuahkan hasil positif, perkara ini akhirnya berujung damai dan dihentikan penuntutannya. SUW dan MAR akhirnya terbebas dari ancaman pidana. Ini semua kita lakukan sebagai implementasi penegakan hukum Kejaksaan RI yang berhati nurani dalam menerapkan keadilan restoratif,” kata Kajari Banda Aceh Djamaluddin kepada Adhyaksadigital, Selasa 27 Juni 2023. (Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button