Nasional

Bantu Jualkan Barang Curian, Ya Gol Lah!

ADHYAKSAdigital.com –Kepolosan dan niat membantu itu kerap membuat kondisi senjata makan tuan. Apalagi bila membantu orang lain masih dalam urusan pidana, imbasnya kita pihak yang membantu kena getahnya, dianggap ikut serta atas peristiwa pidana. Kita dituding bagian dari sindikat dari peristiwa pidana itu dan harus berurusan dengan aparat penegak hukum.

Di Kota Metro, Provinsi Lampung, warga setempat di tuduh sebagai penadah barang dari aksi pencurian yang dilakukan seorang maling, saudara iparnya. Niat membantu menjualkan barang hasil curian itu lewat media sosial, dia malah harus dijadikan tersangka pidana oleh pihak kepolsian setempat. Syukurnya, penerapan keadilan restoratif Kejaksaan Negeri Metro bisa membebaskannya dari ancaman pidana.

Kisahnya seperti ini. Medio Maret 2022 lalu, Koko dimintai tolong Feri, saudara iparnya untuk menjualkan 1 (satu) unit sepeda motor yang berhasil dicuri dari salah satu tempat di seputaran gedung Pengadilan Negeri Mettro. Peristiwa kehilangan itu sendiri terjadi pada Februari 2022. Berlian adalah pemilik sepeda motor itu yang sebelumnya adalah pihak yang telah kehilangan sepeda motor di PN Metro.
Dimintai tolong menjualkan sepeda motor oleh iparnya, Koko segera menawarkannya lewat media sosial Facebook. Tidak perlu menunggu lama, penawarannya di media sosial peroleh respon dari yang berminat membeli sepeda motor itu, walaupun tanpa dokumen surat-surat kepemilikan baik itu STNK maupuan BPKB. Roni warga setempat membeli sepeda motor bodong itu. Sepeda motor dibeli seharga Rp2.600.000,- (dua juta enam ratus ribu rupiah). Sepeda motor pun berpindah tangan, yang sebelumnya dikuasai Feri, kini jadi milik Roni.

Rupanya, Berlian si pemilik awal sepeda motor masih berusaha mencari tahu keberadaan barang berharganya itu, bahkan sampai mengadukanya ke kantor polisi, Polsek Metro Barat, Lampung. Upaya kepolisian dan Berlian mencari sepeda motor beserta malingnya membuahkan hasil. Sepeda motor rupanya sudah dijual dan berpindah tangan. Feri, Koko dan Roni berhasil diamankan. Feri ditetapkan sebagai tersangka pencurian yang melanggar Pasal 362 KUHPidana, Koko dan Roni tersangka penadahan yang melanggar Pasal 480 KUHPidana.

Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, berkas perkara pidana penadahan dengan tersangka Koko dan Roni dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Metro, Lampung. Tim bidang Pidana Umum Kejari Metro pun memeriksa dan meneliti berkas perkara ini, dengan 2 (dua) orang tersangka atas nama Koko dan Roni.
Penegakan hukum humanis rupanya telah tertanam dalam diri Virginia Hariztavianne,SH, B.Bus., M.M., M.H. Sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Metro, Virginia berkeinginan perkara ini bisa dihentikan penuntutannya. Kajari Metro memerintahkan jajaran jaksa Pidum memfasilitasi perdamaian antara si pemilik sepeda motor dengan 2 tersangka, Koko dan Roni, sama-sama dinilai sebagai penadah tersebut. Khusus untuk tersangka Roni, pelaku merupakan anak di bawah umur, pihaknya memberikan penegakan hukum diversi.

Tergerak dilandasi hati nurani, penegakan hukum humanis menjadi alasan pihaknya untuk menawarkan perkara itu tidak dilanjutkan penuntutannya ke persidangan. Niatan mulia pihaknya membuahkan hasil. Berlian, Koko dan Roni saling memaafkan. Mereka bersepakat damai dan membubuhkan tanda tangan diatas materai pernyataan perdamaian dengan disaksikan para saksi.

“Senin, 10 April 2023 lalu mereka bersepakat damai dan menandatangi perjanjian perdamaian,” tutur Kajari Metro Lampung, Virginia Hariztavianne kepada ADHYAKSAdigital, Senin 17 April 2023. Virginia menerangkan mereka berdamai dan sepakat untuk tidak melanjutkan persoalan ini hingga proses hukum lanjutan ke persidangan. ” Koko mengaku berjanji tidak mengulangi perbuatannya dan untuk lebih baik dalam berperilaku kesehariannya,” katanya.

Atas terwujudnya perdamaian antara mereka, Kejari Metro mengusulkan penghentian penuntutan perkara tersebut ke pimpinan melalui Kajati Lampung Nanang Sigit Yulianto untuk diteruskan ke Jaksa Agung agar disetujuinya penerbitan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang di terbitkan Kejari Metro Lampung

“JAM Pidum DR Fadil Zumhana Harahap SH.MH atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan kita. Kejari Metro Lampung meneribitkan SKP2 Restorative Justice atas perkara pidana penadahan dengan tersangka Koko . Dengan demikian Koko bebas dari ancaman pidana. Perkara ini kita hentikan,” tegasnya.

Putri dari mantan JAM Pembinaan Ellen Soebiantoro ini menyebutkan penerbitan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif, sesuai Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. (Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button