Nasional

Cemburu Punya WIL, Pacar Pun Dianiaya

ADHYAKSAdigital.com –Ada-ada saja gaya pacaran anak muda jaman sekarang. Masih berstatus pacar, bawaan cemburu selalu hinggap dalam diri. Pokoknya pacar itu milik dia, pria idaman lain (PIL) maupun wanita idaman lain (WIL) tidak boleh ada selama pacaran.

Hubungan pacaran di kalangan kawula muda pastinya mengisahkan memori
romantisme. Namun kadangkala gaya pacaran anak muda dianggap diluar kewajaran.

Pola dan tingkah lakunya seringkali bikin geleng-geleng kepala. Atas nama asmara, mereka udah gak malu mesra-mesraan di depan umum sekalipun. Bisa dibilang, gaya pacaran anak muda zaman sekarang sudah tidak sehat, bahkan dibarengi dengan aksi penganiayaan, kekerasan dan merenggut hak pasangannya.
Di beberapa peristiwa kisah hubungan pacaran pasangan pria dan wanita malah menjadi malapetaka akibat adanya aksi kekerasan dalam hubungan pacaran. Aksi kekerasan dalam pacaran itu berupa kekerasan fisik, seksual dan psikologi.

Di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, seorang perempuan muda harus berurusan dengan aparat penegak hukum setempat. Apa gerangan? Si perempuan yang berinisial Nur (21) melakukan aksi kekerasan dalam pacaran dengan melakukan penganiayaan terhadap pacarnya, lelaki berinisial Choerul (30).

Kala itu, Rabu, 21 Desember 2022, niat hati melepas rindu, Nur nekat mendatangi rumah pacarnya pada subuh hari. Dia masuk lewat jendela rumah sang pujaan hati. Pasangan pacaran ini pun asik bercengkrama di kamar Choerul.
Ketika Choerul tengah berada di kamar mandi, berawal dari ketidaksengajaan Nur mengotak atik telepon seluler pacarnya. Nur tersentak dengan sebuah pesan yang terdapat di kotak pesan telepon seluler pacarnya itu.

Pesan berasal di duga dari seorang wanita idaman lain. Isi pesannya menyayat hati Nur kala itu. Dia curiga, Choerul punya wanita lain selain dirinya.

Cemburu pun seketika itu terlintas dalam hati Nur. Dia segera beranjak pulang sembari mengumpat dalam hati, pacarnya ternyata miliki WIL. Telepon seluler milik pacarnya juga turut jadi korban. Nur emosi, ponsel dibuangnya ke kolam ikan yang terdapat di areal rumah pacarnya.
Sesaat kemudian, Choerul keluar dari kamar mandi kembali ke kamar
tidurnya. Choerul kaget tidak mendapati Nur di kamarnya. Bahkan telpon
seluler miliknya juga raib.

Lelaki ini pun langsung curiga, Nur pacarnya turut serta membawa ponsel miliknya. Dia sadar Nur nekat pergi karena pesan yang ada di Ponsel miliknya. Nur pasti cemburu.

Choerul pun beranjak keluar rumah berniat menemui Nur pacarnya itu ke kediamannya. Dia mau memastikan keberadaan ponselnya dan klarifikasi tentang pesan di ponselnya itu. Sekalian mempertanyakan mengapa Nur langsung pergi dari rumahnya waktu itu.
Tiba di rumah Nur pacarnya, Choerul malah kena semprot. Keributan pun terjadi. Nur mengaku kecewa, pacarnya miliki WIL. Dia tidak berniat mendengarkan klarifikasi dari Choerul.

Emosi Nur memuncak. Dia mengambil sebilah pisau lipat dari dalam rumahnya. Dia hunuskan pisau itu ke tubuh Choerul. Pisau mengenai tubuh Choerul, seketika itu darah segar langsung muncrat akibat luka tusukan.

Puas menganiaya pacarnya dan menusuknya dengan sebilah pisau lipat,
Nur masuk kembali ke dalam rumahnya dan membiarkan Choerul merenggang
kesakitan akibat luka tusukan di badannya.

Choerul pun mendatangi rumah sakit setempat dan menerima perawatan medis. Choerul mengalami luka di punggung sebelah kiri sesuai dengan hasil visum et repertum RS Mitra Plumbon Majalengka Nomor 0347/EXT/RSMPM/II/2023 tanggal 10 Februari 2023.

Berbekal surat visum, Choerul mendatangi Polsek Ligung, Polres Majalengka. Dia melaporkan Nur, pacarnya yang telah menganiaya dan menusuknya. Bahkan juga menghilangkan dan merusak ponsel miliknya.

Mendapati adanya laporan tindak pidana penganiayaan terhadap korban Choerul, personil Polsek Ligungu bergerak dan mengamankan Nur. Perempuan muda ini pun diproses hukum dan ditetapkan sebagai tersangka atas tindak pidana penganiayaan dan pengrusakan yang melanggar Pasal 351 Ayat 1 KUHPidana dan Pasal 406 KUHP tentang Perusakan. Penyidik Polsek Ligung juga melakukan penahanan terhadapnya.

Seiring waktu, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, proses hukumnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Majalengka guna proses hukum lanjutan. Namun, oleh Kejaksaan Negeri Majalengka melakukan upaya perdamaian bagi kedua orang pasangan kekasih itu.

Kepala Kejaksaan Negeri Majalengka Eman Sulaeman SH.MH menginisiasi
adanya perdamaian antar keduanya dan menawarkan agar persoalan mereka
tidak dilanjutkan hingga persidangan di Pengadilan Negeri setempat.

“Akhirnya telah tercapai kesepakatan perdamaian yang ditandatangani masing-masing pihak dengan para saksi dari keluarga dan tokoh masyarakat setempat,” ujar Kajari Majalengka Eman Sulaeman kepada ADHYAKSAdigital, Selasa 28 Februari 2023.

Kajari Majalengka bersama dengan tim Jaksa Penuntut Umum Pidana Umum Kejari Majalengka mengusulkan penghentian penuntutan perkara itu ke Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Asep Nana Mulyana guna diteruskan ke Jaksa Agung ST Burhanuddin untuk persetujuan perkara dihentikan.

Senin, 27 Februari 2023, JAM Pidum Fadil Zumhana atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan penghentian penuntutan yang
diajukan Kejari Majalengka atas perkara penganiayaan dan pengrusakan atas nama tersangka Nur Alala Binti Juardi, yang diduga melanggar Pasal 351 (1) KUHPidana dan Pasal 406 KUHP tentang Perusakan.

“Penegakan hukum humanis Kejari Majalengka membuahkan hasil positif,
perkara ini akhirnya berujung damai dan dihentikan penuntutannya. Nur akhirnya terbebas dari ancaman pidana. Ini semua kita lakukan sebagai implementasi penegakan hukum Kejaksaan RI yang berhati nurani dalam menerapkan keadilan restoratif,” kata Kajari Majalengka Eman Sulaeman.

Kejari Majalengka akan menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif dan menyerahkannya kepada Nur Alala Binti Juardi.

“SKP2 RJ sesuai Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15
Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan
Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum,”
terang Eman Sulaeman. (Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button