Nasional

Bising Suara Musik, Sabar Samosir Pukul Tetangga

ADHYAKSAdigital.com –Hidup bertetangga satu lingkungan permukiman warga kadang kala tidaklah harmonis. Ada saja penyebabnya, sehingga membangun ketersinggungan satu dengan yang lainnya. Imbasnya pasti suasana dalam kehidupan sehari-hari warga kurang kondusif, saling curiga dan sikap cuek. Kebersamaan dalam solidaritas satu lingkungan pun memudar, sehingga kepedulian dalam gotong royong dan saling menghargai pun hilang.

Dengan demikian perlunya dibangun kesadaran bagi masing-masing warga, kebersamaan, solidaritas, toleransi, saling menghargai dan gotong royong harus diterapkan dalam kehidupan di dalam lingkungan mereka. Sikap arogan, sombong, cuek dan pamer harus perlahan-lahan di hilangkan dalam diri masing-masing warga.

Di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, seorang warga setempat harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Apa pasal? Mendapati tetangganya sedang berkumpul dan sedang asik mendengarkan suara musik sembari bernyanyi karaoke jelang malam., warga ini protes dan memarahi tetangganya itu diakibatkan suara bising musik malam itu.
Sabaruddin Ahmad Samosir (50) merasa terganggu dan tidak nyaman dengan situasi malam itu. Pasalnya, di dalam rumahnya, orang tua Sabar Samosir (ibu kandungnya) tengah tinggal dengannya dan kondisinya sedang terbaring sakit di dalam kamar tidur.

Kala itu, Minggu 18 September 2022, Dusun V Desa Sei Alim Hasak Kecamatan Sei Dadap Kabupaten Asahan, Sabar Samosir jelang subuh pukul 00.30 WIB keluar dari rumahnya menghampiri rumah tetangganya Alfader Hasudungan Sihombing yang saat itu sedang ramai berkumpul bersama sanak saudaranya dan sedang asik memutar lagu sembari bernyanyi karaoke.
Sabar Samosir tidak mampu menahan emosinya ketika sedang ketemu dengan Alfader Sihombing tetangga sebelah rumahnya itu. Dia mengajukan protes atas suara bising suara musik mereka malam itu, Sabar Samosir mengaku terganggu dan tidak nyaman, terlebih ibunya tengah terbaring sakit di rumahnya.

Mendapati teguran dari tetangganya, Alfader Sihombing bukannya merasa bersalah dan meminta maaf atas situasi yang kurang nyaman malam itu, akibat suara musik karaoke keluarganya malam itu. Alfader justru tersinggung atas teguran tetangganya itu.
Respon yang dianggap tidak beretika dan menyinggung harga dirinya, spontan emosi Sabar Samosir seketika itu langsung memuncak sembari memarahi dan memaki tetangganya itu. Tak puas memarahi dan memaki, Sabar Samosir juga memukul wajah tetangganya itu.

Melihat ada keributan antara Sabar Samosir dengan Alfader Sihombing, beberapa sanak saudara dari Alfader Sihombing yang sedang berada di situ berupaya melerai keributan antara dua orang pria yang tinggal bertetangga ini.

Upaya melerai keributan yang tengah terjadi mampu dilakukan keluarga Alfader Sihombing malam itu. Sabar Sihombing pun balik kanan dan pulang ke rumahnya. Sementara itu, Alfader Sihombing bergegas menuju rumah sakit, untuk mengobati luka yang ada di wajahnya akibat pukulan tetangganya tersebut.

Berbekal Surat Visum Et Repertum Nomor : 353/478 tanggal 18 September 2022 yang ditandatangani oleh dr. Yenny Maharani yakni dokter pada Rumah Sakit Umum Daerah Haji Abdul Manan Simatupang Kota Kisaran, Alfader Sihombing mendatangi Polres Asahan di Kisaran guna membuat laporan atas keributan yang terjadi antara dirinya dengan Sabar Samosir tetangganya itu.

Menerima adanya laporan dari salah seorang warga di wilayah hukumnya, Polres Asahan lantas memproses laporan itu. Penegakan hukum pun dilakukan penyidik dengan menetapkan Sabaruddin Ahmad Samosir sebagai tersangka atas tindak pidana penganiayaan yang melanggar Pasal 315 KUHPidana.

Seiring waktu, proses hukum atas perkara Sabar Samosir yang disangkakan tindak pidana penganiayaan ini pun bergulir. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, perkara ini pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Asahan guna proses hukum berkelanjutan.

Tim Jaksa Pidana Umum Kejari Asahan dibawah koordinasi Kasi Pidum Budi Septian SH dibantu jaksa penuntut umum yang juga fasilator, Petricia Br Sembiring, SH pun memeriksa dan meneliti berkas perkara ini. Selanjutnya dilaporkan kepada pimpinan. Namun, oleh Kejaksaan Negeri Asahan melakukan upaya perdamaian bagi Sabar Samosir dan Alfader Sihombing, kedua orang yang tinggal bertetangga ini.

Kepala Kejaksaan Negeri Asahan Dedyng Wibiyanto Atabay SH.MH menginisiasi adanya perdamaian antar keduanya dan menawarkan agar persoalan mereka tidak dilanjutkan hingga persidangan di Pengadilan Negeri setempat.

Niatan mulia pihaknya membuahkan hasil, Sabaruddin dan Alfader saling memaafkan. Mereka bersepakat damai dan membubuhkan tanda tangan diatas materai pernyataan perdamaian dengan disaksikan para saksi.

“17 Januari 2023 lalu mereka bersepakat damai dan menandatangi perjanjian perdamaian,” tutur Kajari Asahan Dedyng Wibiyanto Atabay didampingi Kasi Pidum Budi Septian dan jaksa fasilitator Petricia Br Sembiring kepada ADHYAKSAdigital, Kamis 26 Januari 2023.

Atas terwujudnya perdamaian antara keduanya, Kejari Asahan mengusulkan penghentian penuntutan perkara tersebut ke pimpinan melalui Kajati Sumut Idianto untuk diteruskan ke Jaksa Agung agar disetujuinya penerbitan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang di terbitkan Kejari Asahan.

Rabu, 25 Januari 2023, JAM Pidum Fadil Zumhana atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan penghentian penuntutan yang diajukan Kejari Asahan atas perkara penganiayaan atas nama tersangka Sabaruddin Samosir yang diduga melanggar Pasal 351 KUHP.

“Penegakan hukum humanis Kejaksaan Negeri Asahan membuahkan hasil positif, perkara ini akhirnya berujung damai dan dihentikan penuntutannya. Sabaruddin akhirnya terbebas dari ancaman pidana. Ini semua kita lakukan sebagai implementasi penegakan hukum Kejaksaan RI yang berhati nurani dalam menerapkan keadilan restoratif,” kata Kajari Asahan Dedyng Wibiyanto Atabay.

Kejari Asahan selanjutnya segera menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif dan menyerahkannya kepada Sabaruddin Samosir. “SKP2 RJ sesuai Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum,” ujar Kajari Asahan.
(Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button