Nasional

Emak-emak di Bakongan Aceh Selatan “Tampar” Tetangga

ADHYAKSAdigital.com –Ekspresi luapan emosi sesaat itu sebenarnya dapat dikendalikan. Namun, sebagian kita sebagai manusia sukar mengendalikannya bila dihadapkan dalam situasi spontanitas. Terlebih bila menyangkut harga diri dan marwah keluarga.

Hidup bertetangga satu dengan yang lainnya kadang kala tidaklah harmonis. Ada saja penyebabnya, sehingga membangun ketersinggungan satu dengan yang lainnya. Imbasnya pasti suasana dalam kehidupan sehari-hari warga kurang kondusif, saling curiga dan sikap cuek. Kebersamaan dalam solidaritas satu lingkungan pun memudar, sehingga kepedulian dalam gotong royong dan saling menghargai pun hilang.

Dengan demikian perlunya dibangun kesadaran bagi masing-masing warga, kebersamaan, solidaritas, toleransi, saling menghargai dan gotong royong harus diterapkan dalam kehidupan di dalam lingkungan mereka. Sikap arogan, sombong, cuek dan pamer harus
perlahan-lahan di hilangkan dalam diri masing-masing warga. Kebersamaan, solidaritas, toleransi, gotong royong dan menjaga keamanan dalam lingkungan warga menjadi prioritas utama.

Di Bakongan, Kabupaten Aceh Selatan, seorang emak-emak bernama Rasidah (53) merasa terganggu dengan kehadiran Rika Sari Wahyuni (36) warga baru yang tinggal bertetangga dengannya. Si emak ini terusik dengan tetangganya itu yang menurutnya kurang ramah terhadap lingkungan barunya. Bila sedang ketemu, keduanya kerap saling sindir. Rasidah dan Rika tidak akur hidup bertengga dalam satu lingkungan mereka.

Puncaknya, Minggu 6 November 2022 lalu di Gampong Pasie Seubadeh, Kabupaten Aceh Selatan. Rasidah tidak mampu menahan emosinya ketika sedang ketemu dengan Rika tetangga barunya itu. Entah apa yang merasuki pikirannya saat itu, Rasidah memaki Rika.

Tidak hanya mengumpat dengan kata-kata makian, Rasidah bahkan menampar tetanganya itu. Dia kesetanan kala itu. Tidak puas memaki, menampar. Rasidah juga menjambak rambut wanita tetangganya tersebut.
Tidak terima atas aksi penganiayaan dan umpatan kata-kata kotor yang dialamatkan terhadap dirinya sehingga harga dirinya tercoreng dan mempermalukannya di depan umum dan warga lainnya, Rika Sari Wahyuni lantas mendatangi Polres Aceh Selatan di Tapaktuan dan membuat pengaduan atas tindak pidana yang dilakukan Rasidah tetangganya itu.

Menerima adanya laporan dari salah seorang warga di wilayah hukumnya, Polres Aceh Selatan lantas memproses laporan itu. Penegakan hukum pun dilakukan penyidik dengan menetapkan Rasidah sebagai tersangka atas tindak pidana penganiayaan yang melanggar Pasal 315 KUHPidana.

Seiring waktu, proses hukum atas perkara Rasidah yang disangkakan tindak pidana penganiayaan ini pun bergulir. Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, perkara ini pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Aceh Selatan Cabang Bakongan guna proses hukum berkelanjutan.
Tim Jaksa Pidana Umum Kejari Aceh Selatan Cabang Bakongan dibawah koordinasi Kepala Cabang Kejari Aceh Selatan di Bakongan Muhammad Rizky SH pun memeriksa dan meneliti berkas perkara ini.

Penegakan hukum humanis yang telah menjadi budaya Kejaksaan saat ini tertanam dalam diri Muhammad Rizky SH. Tergerak dilandasi hati nurani, Rizky sebagai Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Bakongan berinisiasi memediasi perdamaian antara korban dengan pelaku.Penegakan hukum humanis Cabang Kejari Bakongan menjadi alasan pihaknya untuk menawarkan perkara itu tidak dilanjutkan penuntutannya ke persidangan.

Niatan mulia pihaknya membuahkan hasil, Rasidah dan Rika saling memaafkan. Mereka bersepakat damai dan membubuhkan tanda tangan diatas materai pernyataan perdamaian dengan disaksikan para saksi. “28 Desember 2022 lalu mereka bersepakat damai dan menandatangi perjanjian perdamaian,” tutur Kacabjari Bakongan M Rizky kepada ADHYAKSAdigital, Selasa 10 Januari 2023.
Rizky menerangkan mereka berdamai dan sepakat untuk tidak melanjutkan persoalan ini hingga proses hukum lanjutan ke persidangan. “Rasidah mengaku berjanji tidak mengulangi perbuatannya dan untuk lebih sabar dan baik dalam berperilaku kesehariannya,” kata Rizky.

Atas terwujudnya perdamaian antara keduanya, Cabang Kejaksaan Negeri Bakongan mengusulkan penghentian penuntutan perkara tersebut ke pimpinan melalui Kajati Aceh Bambang Bachtiar untuk diteruskan ke Jaksa Agung agar disetujuinya penerbitan surat ketetapan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang di terbitkan Cabang Kejari Aceh Selatan di Bakongan.

“JAM Pidum DR Fadil Zumhana Harahap SH.MH atas nama Jaksa Agung ST Burhanuddin menyetujui usulan kita. Kejari Aceh Selatan Cabang Bakongan meneribitkan SKP2 Restorative Justice atas perkara penganiayaan dengan tersangka atas nama Rasidah. Dengan demikian Rasidah bebas dari ancaman pidana. Perkara ini kita hentikan,” jelas Rizky.

Kacabjari Bakongan ini menyebutkan penerbitan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif, sesuai Berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.
(Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button