Nasional

Memaknai Paskah sebagai Hari Kebangkitan

ADHYAKSAdigital.com –Hari Raya Paskah atau peringatan Hari Kebangkitan Yesus Kristus akan jatuh pada hari Minggu 17 April 2022 tahun ini. Perayaan Paskah dirayakan oleh seluruh umat nasrani baik itu Katolik dan Kristen di seluruh dunia.

Sebagaimana disampaikan oleh Uskup Agung Jakarta sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Ignatius Suharyo, umat Katolik akan merayakan Paskah sejak “malam Paskah”, yakni Sabtu sore atau malam 16 April 2022 dengan upacara meriah.

Sedangkan umat Kristiani biasanya akan beribadah pada waktu subuh di gereja saat Minggu Paskah.Mereka memperingati kebangkitan Yesus Kristus, yaitu tiga hari setelah peristiwa penyaliban dan kematian Yesus di kayu salib yang dikenal dengan Jumat Agung.

Lalu, apa sebenarnya makna dari perayaan Paskah ini? Memaknai perayaan Paskah Menurut Romo Ignatius Suharyo, pada dasarnya Paskah adalah syukur atas karya penyelamatan Allah lewat Anak-Nya yang Tunggal, Yesus Kristus.

“Yesus telah membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan menjadikannya manusia baru yang merdeka. maka kita sebagai umat-Nya harus terus melahirkan kebaikan layaknya yang diperbuat Yesus Kristus,” kata Romo Suharyo, melansir kompas.com.

Seirama dengan Romo Suharyo, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom juga menjelaskan, bahwa Paskah merupakan hari umat Kristen merayakan Kebangkitan Kristus.

“Kebangkitan Kristus telah memulihkan kehidupan kita. Pemulihannya memungkinkan kita, menjadi anak-anak Paskah, menjadi garam dan terang di dunia ini,” tuturnya. Ia menyebutkan, peristiwa Paskah sesungguhnya adalah momen yang mendekatkan umat manusia dengan Allah melalui pemulihan atas kehidupan.

Maka dari itu lewat perayaan Paskah ini, sambung Gomar Gultom, umat diharapkan mampu berbela rasa dengan realitas di sekitarnya dan tidak menempatkan diri sebagai pusat segala sesuatu.

“Pemulihan Tuhan memungkinkan kita sebagai umat yang mampu menjadi garam dan terang dunia. Kita harus mengubah orientasi hidup yang ingin meraup sebanyak mungkin untuk diri sendiri, ke arah sebaliknya. Mengarahkan diri kita bermakna bagi dunia ini,” ujar dia.
(Felix Sidabutar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button